JPIC Kalimantan | Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Keuskupan Agung Pontianak resmi berakhir pada Minggu (31/5/2026).
Selama enam hari pelaksanaan, para pegiat komunikasi sosial Gereja Katolik dari 18 keuskupan di Indonesia mendalami berbagai isu komunikasi digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Penutupan kegiatan ditandai dengan Misa Kudus di Katedral Santo Yosep Pontianak yang dipimpin Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Samuel Oton Sidin, OFM Cap.
Dalam pesan penutupnya, Uskup Samuel berharap seluruh peserta mampu menerapkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama PKSN di lingkungan pelayanan masing-masing.
“Kiranya apa yang kita terima di sini telah menginspirasi kita semua. Kita hidupi dan praktikkan di paroki dan keuskupan masing-masing,” ujar Uskup Samuel.
Ia menilai PKSN menjadi sarana penting untuk memperkuat pelayanan komunikasi Gereja di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Menurutnya, perkembangan AI harus disikapi secara bijak karena memiliki dampak positif sekaligus risiko yang perlu diantisipasi.
Sebelumnya, pada malam penutupan Sabtu (30/5/2026), Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Pontianak menyerahkan kembali mandat penyelenggaraan kepada Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
Penyerahan dilakukan oleh Ketua Komsos Keuskupan Agung Pontianak, Paulus Mashuri, kepada Sekretaris Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng.
Pada kesempatan itu juga diumumkan bahwa Keuskupan Manado akan menjadi tuan rumah PKSN XIV tahun depan. Kesiapan tersebut disampaikan Ketua Komsos Keuskupan Manado, RD Yohanes I Made Pantyasa, melalui tayangan video.
“Bapa Uskup Manado menyatakan, kami siap menjadi tuan rumah PKSN XIV tahun depan. Bagi para pegiat Komsos se-Keuskupan di Indonesia, kami tunggu kehadiran Anda nanti,” katanya.
PKSN XIII mengusung tema “Menjaga Suara dan Wajah Manusia”, yang diangkat dari pesan Paus Leo XIV pada peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60.
Ketua Komsos Keuskupan Agung Pontianak, Paulus Mashuri, mengatakan tema tersebut menjadi refleksi Gereja Katolik dalam menghadapi perkembangan teknologi komunikasi yang semakin masif.
Menurut dia, penggunaan AI tidak boleh menggeser nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti komunikasi.
“Para pegiat media Gereja Katolik diharapkan bijaksana menempatkan AI sebatas alat bantu. Dengan begitu, suara dan wajah manusia yang otentik tetap terpelihara, tidak justru terseret kecenderungan manipulasi yang menghilangkan jati diri,” ujarnya.
PKSN merupakan agenda tahunan yang digagas Konferensi Waligereja Indonesia sejak 2014 sebagai tindak lanjut Hari Komunikasi Sosial Sedunia. Melalui kegiatan ini, para pegiat komunikasi Gereja dari berbagai keuskupan didorong untuk membangun jejaring, meningkatkan kapasitas, dan mengembangkan strategi komunikasi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dari Pontianak, para peserta membawa pulang berbagai gagasan dan rancangan pengelolaan komunikasi yang akan diterapkan di keuskupan masing-masing, dengan harapan pelayanan komunikasi Gereja semakin efektif sekaligus tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. (Samuel).


