AI dan Teknologi Bukan Jawaban Tunggal bagi Media Gereja

JPIC Kalimantan Barat
3 Min Read
Mentor membantu peserta saat praktik produksi konten podcast di workshop PKSN XIII Pontianak. Foto: Komsos KAP

JPIC Kalimantan | Membuat konten yang sekadar mengikuti tren media sosial dinilai tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan komunikasi Gereja di era digital.

Para peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak didorong menghasilkan karya yang tidak hanya menarik, tetapi juga mampu menyampaikan pesan secara jelas, mendalam, dan berdampak.

Pesan tersebut mengemuka dalam sesi bedah karya peserta pada hari kelima PKSN XIII, Sabtu (30/5). Seluruh hasil praktik peserta, mulai dari jurnalistik, podcast, konten kreatif, hingga video pendek, dievaluasi langsung oleh para mentor dari kalangan praktisi media.

Sebagian besar peserta mengaku baru pertama kali mengikuti proses produksi konten secara serius. Selama ini mereka lebih banyak membuat konten media sosial yang berorientasi pada tren dan viralitas.

Di kelas jurnalistik, mentor Gabriel Abdi Susanto menemukan sejumlah kelemahan yang umum dialami penulis pemula. Mulai dari penyusunan kalimat, pengolahan hasil wawancara, hingga penentuan judul berita.

“Menulis tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi belajar berkomunikasi yang baik dengan pembaca,” ujarnya.

Pada kelas podcast, peserta belajar bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh daftar pertanyaan yang disiapkan. Kemampuan membangun percakapan yang alami menjadi faktor penting dalam menarik perhatian pendengar.

Mentor podcast Jose Marwoto mengatakan host harus mampu menggali cerita, pengalaman, dan emosi narasumber sehingga percakapan terasa hidup.

“Podcast yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan cerita yang mampu membuat pendengar terlibat secara emosional,” katanya.

Sementara itu, evaluasi pada kategori konten kreatif menunjukkan bahwa banyak peserta memiliki ide yang menarik, namun masih perlu memperkuat aspek teknis produksi. Kesesuaian antara narasi, gambar, dan audio menjadi salah satu perhatian utama mentor Ignasius Kristoper Adi Surya.

“Konten sederhana sekalipun dapat menjadi kuat apabila didukung naskah yang baik dan penyampaian pesan yang jelas,” ujarnya.

Review konten podcast produksi peserta PKSN XIII di Pontianak. Foto: Komsos KAP

Pada kategori video pendek, mentor Samuel Krismanto menilai sebagian besar karya peserta masih berada pada tahap video informatif dan profil kegiatan. Menurut dia, video dokumenter memerlukan sudut pandang yang kuat serta kemampuan menggali makna di balik sebuah peristiwa.

“Buatlah gambar yang bercerita, bukan cerita yang diberi gambar,” tegasnya.

Bagi para peserta, sesi evaluasi menjadi pengalaman berharga untuk melihat kelemahan sekaligus peluang pengembangan diri.

Robert, peserta kelas podcast, mengaku memperoleh pemahaman baru tentang pentingnya peran host dalam membangun suasana percakapan.

“Pelajaran paling berharga bagi saya adalah mengubah wawancara yang kaku menjadi percakapan yang natural,” katanya.

Hal serupa dirasakan Brigita Alma dari kelas video pendek. Ia menyadari bahwa kreativitas harus didukung kemampuan mengemas pesan secara utuh dan mudah dipahami audiens.

“Review dari mentor membuat kami melihat bagian-bagian yang masih kurang nyambung dalam video produksi kami,” ujarnya.

Proses pembelajaran tersebut, PKSN XIII terlihat menjadi ajang pelatihan teknis dan ruang pembentukan generasi baru pegiat komunikasi Gereja yang mampu menghasilkan konten berkualitas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat digital saat ini.*SA. 

Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *