Workshop PKSN XIII Soroti Bahaya Informasi Tanpa Verifikasi

JPIC Kalimantan Barat
3 Min Read
Foto Pemateri PKSN Workshop Jurnalistik (Foto: Anjeli Peserta PKSN XIII Pontianak)

JPIC Kalimantan | Arus informasi yang semakin cepat di era digital menjadi perhatian utama dalam Workshop Jurnalistik PKSN XIII yang berlangsung di Gedung FASIPIKUS BOS Pontianak, Kamis (28/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, jurnalis senior Kornelis Purba mengingatkan pentingnya verifikasi fakta di tengah maraknya informasi media sosial yang belum tentu benar.

Menurut Kornelis Purba, kecepatan penyebaran informasi saat ini sering kali membuat masyarakat sulit membedakan berita faktual dan opini pribadi. Karena itu, jurnalisme yang berpegang pada fakta dan objektivitas menjadi sangat penting.

“Berita harus berdasarkan fakta, bukan karangan ataupun opini pribadi,” tegas Kornelis Purba di hadapan peserta workshop.

Workshop yang menjadi bagian dari Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) ke-13 ini diikuti peserta dari berbagai kalangan muda yang ingin mempelajari dasar-dasar jurnalistik dan teknik penulisan berita.

Dalam pemaparannya, Kornelis Purba menjelaskan bahwa seorang wartawan memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi kepada publik. Informasi yang disampaikan tidak boleh menyesatkan dan harus melalui proses verifikasi yang benar.

Dia menilai tantangan jurnalistik modern bukan hanya soal kecepatan, tetapi bagaimana menjaga kualitas informasi agar tetap akurat di tengah banjir konten digital.

Selain membahas dasar jurnalistik, peserta juga diperkenalkan pada konsep nilai berita atau news value melalui unsur CHOPPT, yakni Consequences, Human Interest, Prominence, Proximity, dan Timeliness.

Melalui konsep tersebut, peserta diajak memahami bahwa tidak semua peristiwa layak diberitakan. Sebuah berita harus memiliki dampak, kedekatan dengan masyarakat, nilai kemanusiaan, keterlibatan tokoh penting, serta unsur aktualitas.

Kegiatan workshop berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak menganalisis kasus sederhana untuk menentukan angle berita dan melihat nilai penting suatu peristiwa.

Salah satu contoh kasus yang dibahas ialah kondisi sekolah dasar di desa yang mengalami kebocoran atap saat hujan deras. Dari kasus tersebut, peserta belajar bahwa peristiwa sederhana dapat menjadi berita penting apabila berdampak pada masyarakat luas, terutama dunia pendidikan.

Kornelis Purba juga menekankan pentingnya objektivitas dalam penulisan berita. Menurutnya, wartawan tidak boleh memihak ataupun menulis berdasarkan emosi pribadi.

“Wartawan harus bekerja secara profesional karena informasi yang disampaikan dapat memengaruhi cara pandang masyarakat,” ujarnya.

Workshop jurnalistik ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan edukatif dalam PKSN XIII yang bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi generasi muda, khususnya dalam memahami media dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.

Di akhir kegiatan, peserta diajak terus belajar dan melatih kemampuan menulis agar mampu menghasilkan karya jurnalistik yang bermanfaat bagi masyarakat. (Sam) – Sumber: Anjeli Peserta PKSN. 

Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *