Hari Studi JPIC FFK: Tokoh Lintas Agama Bicara Perdamaian

JPIC Kalimantan Barat
6 Min Read

Pontianak, 2 Mei 2026 – JPIC Fransiskan-Fransiskanes Kalimantan (JPIC FFK) adalah sebuah organisasi lintas tarekat Fransiskan di Kalimantan.

Organisasi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) ini mengusahakan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan lewat gerakan-gerakan konkret yang berusaha menyentuh, menyelami, dan menginisiasi penyelesaian akar masalah terkait.

Kegiatan yang dilakukan adalah Hari Studi dengan tema “Peziarah Perdamaian” pada 2 Mei 2026 di Gedung Pasifikus, Keuskupan Agung Pontianak dimulai pada pukul 08.00-15.00 WIB.

Kegiatan ini dibuka hadiri oleh Ketua INFO JPIC Nasional, Pastor Pionius Hendi, OFMCap dan dibuka oleh Ketua JPIC FFK, Br. Wilhelmus Baknenok, OFMCap.

Hari Studi ini mempertemukan tokoh lintas agama guna mendengar perspektif perdamaian dari Agama masing-masing serta dihadiri oleh lebih dari 60 peserta.

Perspektif Perdamaian dari Berbagai Agama

Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut Dr. Eny Enawaty, M.Si. (Wakil Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia), Andi Muhammad Muslim, S.H. (GUSDURian), Sutadi, S.H. (Ketua Majelis Tinggi Agama Konghucu/MATAKIN Kalimantan Barat) dan Br. Gerardus, MTB (Gereja Katolik), serta ada perwakilan umat Baha’i.

Kegiatan ini menjadi ruang dialog reflektif sekaligus praksis untuk memperkuat harmoni di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat.

Andi menyoroti perdamaanalam perspektif Islam, disampaikan bahwa ajaran Islam pada hakikatnya adalah rahmat bagi seluruh alam yang menjunjung tinggi perdamaian, keadilan, dan persamaan derajat manusia. Nilai-nilai seperti kebebasan beragama, penghormatan terhadap perbedaan, serta solidaritas kemanusiaan menjadi fondasi utama dalam membangun kehidupan bersama. Praktik nyata seperti kegiatan lintas iman—termasuk buka puasa bersama dan kegiatan kepemudaan—dinilai efektif mempererat relasi sosial.

Sementara dari perspektif Baha’i, ditekankan prinsip dasar bahwa Tuhan itu satu, agama itu satu, dan umat manusia satu. Perdamaian tidak hanya dipahami sebagai toleransi, melainkan sebagai kesatuan umat manusia. Upaya pembinaan moral melalui kegiatan komunitas menjadi salah satu pendekatan untuk membangun kehidupan yang harmonis.

Sementara itu, pandangan Buddha yang disampaikan oleh Dr. Eny menegaskan bahwa perdamaian dimulai dari pengelolaan pikiran melalui nilai-nilai cinta kasih, empati, dan keseimbangan batin. Dialog, komunikasi empatik, serta gerakan kemanusiaan seperti pelestarian lingkungan, penanaman pohon, dan aksi sosial menjadi langkah konkret dalam merawat harmoni. Selain itu, penyembuhan luka konflik masa lalu memerlukan komunikasi yang jujur dan kesediaan untuk saling memahami.

Sementara dalam perspektif Konghucu yang disampaikan oleh Sutadi, menyebut perdamaian dimaknai sebagai kondisi harmonis yang dimulai dari pembinaan diri. Nilai-nilai seperti pengendalian diri, tata krama, keadilan, serta keseimbangan (yin dan yang) menjadi kunci terciptanya kehidupan yang selaras. Harmoni tidak berarti tanpa konflik, tetapi kemampuan mengelola perbedaan secara bijaksana.

Diskusi juga menyoroti pentingnya aksi nyata lintas agama. Para peserta sepakat bahwa dialog tidak harus selalu formal, tetapi dapat dikembangkan melalui kegiatan informal yang membangun kedekatan, seperti olahraga bersama, gerakan lingkungan, dan kegiatan sosial kemanusiaan.

Sebagai kesimpulan, Hari Studi ini menegaskan bahwa perdamaian bukan sekadar konsep, melainkan praktik yang harus diwujudkan melalui komunikasi yang bijak, empati, kesabaran, serta kerja sama lintas iman. Keberagaman di Indonesia dipandang sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis dan berkeadilan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas kolaborasi lintas agama dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di Kalimantan Barat.

Meneladani Spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi dalam Merawat Harmoni

Dalam pemaparan materi oleh Br. Gerardus,MTB dijelaskan bahwa perdamaian tidak hanya berarti ketiadaan konflik, tetapi mencakup keutuhan hidup, kesejahteraan, kesehatan, serta keselamatan. Konsep damai yang lebih luas ini mengajak setiap individu untuk tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi menghidupi nilai-nilai damai dalam keseharian.

Warisan spiritual Santo Fransiskus dari Assisi menjadi pusat refleksi, terutama melalui lima nilai utama: pertobatan, doa, persaudaraan (fraternitas), kesederhanaan (minoritas), dan belas kasih. Fransiskus menunjukkan bahwa perdamaian lahir dari hati yang terbuka, kesediaan mendengarkan, serta keberanian untuk hidup sederhana dan dekat dengan mereka yang kecil, miskin, dan terpinggirkan.

Selain itu, ditekankan bahwa gaya hidup sebagai “peziarah” berarti hidup dalam keterbukaan, tidak terikat pada kepemilikan, serta aktif membangun relasi dengan siapa pun. Spirit persaudaraan universal yang dihidupi Fransiskus mengajarkan bahwa seluruh ciptaan adalah saudara, sehingga manusia dipanggil untuk menjaga harmoni dengan sesama dan lingkungan.

Sebagai langkah konkret, peserta diajak untuk menjadi agen perdamaian melalui pembenahan diri—baik dalam cara berpikir, sikap, maupun tindakan. Perdamaian dimulai dari keberanian untuk berdamai dengan diri sendiri, sesama, dan nilai-nilai kehidupan. Selain itu, pentingnya membangun “jembatan” relasi sosial ditekankan sebagai upaya melawan kecenderungan dunia modern yang kerap menciptakan sekat-sekat pemisah.

Kegiatan ini juga menegaskan bahwa perdamaian harus diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti keterlibatan dalam komunitas, pelayanan sosial, kepedulian terhadap lingkungan, serta upaya menjumpai mereka yang terpinggirkan.

Sebagai penutup, ditegaskan bahwa keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan keindahan yang memperkaya kehidupan bersama. Dengan meneladani semangat kasih, kesederhanaan, dan persaudaraan yang diajarkan Santo Fransiskus dari Assisi, setiap orang diharapkan mampu menjadi “peziarah perdamaian” yang aktif membangun dunia yang lebih adil, harmonis, dan penuh kasih.

Kegiatan yang diinidiasi oleh JPIC Fransiskan-Fransiskanes Kalimantan ini diharapkan menjadi inspirasi berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya di Kalimantan Barat, untuk terus merawat perdamaian melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *